Jumat, 12 November 2021

Tradisi Sembelih Kerbau, Ruwah Desa Puri Mojokerto



Indonesia adalah negara yang kaya akan tradisi dan budaya. Setiap suku, setiap daerah, pasti berbeda tradisi dan budayanya. Salah satu tradisi yang hingga saat ini masih sering di jumpai adalah tradisi ruwah desa. 

Ruwah desa adalah sebuah tradisi yang diadakan dengan berbagai macam kegiatan sebagai rasa syukur, mengenang, dan mendoakan para leluhur sebuah daerah. Salah satu daerah itu adalah Desa Puri, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.

Warga Desa Puri memiliki sebuah tradisi ruwah desa yang setiap tahunya pasti dilaksanakan pada bulan Ruwah atau dalam agama Islam dikenal dengan bulan Sya'ban, sebelum Romadhon.

Sama halnya dengan daerah lain. Dalam perayaannya, Kepala Desa Puri biasanya mengajak warga berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan. Kegiatan ruwah Desa Puri biasanya adalah dengan mengadakan syukuran atau warga setempat menyebutnya "bancaan."

Syukuran tersebut diadakan di pohon beringin besar yang berada di Desa Puri tersebut. Pohon tersebut dikenal warga dengan nama "Gelang". Pohon tersebut adalah salah satu pohon yang dikeramatkan oleh warga Desa Puri, tapi juga ada beberapa pohon lain yang sering juga di gunakan untuk syukuran. Memang warga Desa Puri hingga saat ini masih sangat kental dengan tradisi tradisi yang dijalankan oleh leluhur desa, tak jarang dalam acara apapun, ruwah desa, pernikahan, atau mengadakan pertunjukan, warga Desa Puri tidak pernah lupa untuk syukuran "bancaan" pada pohon pohon besar yang dikeramatkan. Gelang selain dikeramatkan oleh warga Desa Puri, juga ada daerah lain yang sering mengunjungi gelang untuk melakukan sebuah ritual. Bahkan saat ini Gelang juga menjadi destinasi tempat yang sering dikunjungi walaupun hanya sekedar bermain atau mampir, namun tetap dengan menjaga tata krama yang ada.

Setelah syukuran, yang menjadi pembeda warga Desa Puri dengan daerah lainnya adalah pada saat ruwah desa, warga Desa Puri wajib menyembelih kerbau. "Setiap tahun harus ada 1 kerbau yang di sembelih untuk acara ruwah desa, hal itu sudah turun temurun, jadi kita sebagai penerus harus melaksanakan itu. Tidak boleh tidak." Tutur Waluyo, warga Desa Puri.

Penyembelihan kerbau dilaksanakan di balai desa Puri, dengan disaksikan petinggi desa, tetua desa, dan warga setempat. Daging kerbaunya biasanya dibagi pada warga satu desa, kemudian sisanya dimasak oleh pemerintah desa pada saat acara untuk makan bersama. Dan darah dari kerbau tersebut di buang atau dialirkan pada sebuah tempat yang disebut oleh warga Desa Puri adalah sumber air. "Darah kerbau itu harus di buang di sumber, tujuannya agar sumber air tersebut tetap mengalir dan berguna untuk warga Desa Puri." Tutur Sutarno, sesepuh Desa Puri. Sumber yang dimaksud berada kurang lebih sekitar 1 kilo dari daerah pohon besar "Gelang".

Dalam lingkungan warga Desa Puri juga beredar mitos yang sangat dipegang dan dipercaya, yaitu jika dalam satu tahun warga Desa Puri tidak menyembelih kerbau untuk ruwah desa, maka warga Desa Puri akan mendapatkan wabah. Hal itu juga yang melatar belakangi tradisi ruwah desa dengan menyembelih kerbau berkembang hingga zaman yang sudah modern seperti ini.

Rangkaian acara ruwah Desa Puri tidak berhenti pada penyembelihan kerbau saja, tapi malam hari biasanya acaranya adalah dimulai dengan istighosah bersama seluruh warga desa Puri di balai desa, Setelah istighosah bersama biasanya pemerintah desa juga menggelar pertunjukan wayang kulit. Namun 2 tahun terakhir pertunjukan tersebut tidak ada, dikarenakan pandemi covid-19.



Qurrotul Aini - 04020120058

Senin, 08 November 2021

Pesona Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang


 

Jombang (7/11) - Pondok Pesantren Mamba'ul Maaeif atau sering disebut dengan Pondok Pesantren Denanyar merupakan Pondok Pesantren yang didirikan oleh KH. bisri Syansuri pada tahun 1917. KH. Bisri Syansuri lahir di kota Patih, Jawa Tengah. 

Pondok Pesantren Denanyar awalnya merupakan Pondok Pesantren khusus santri pria, karena pada saat itu tidak lazim perempuan mondok. Pada tahun 1921, belau mendirikan Pondok Pesantren untuk santri putri memalui restu dari guru beliau. Kemudian pada tahun1923, beliau mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, yang awalnya bernama Mamba'ul Huda namun kemudian berganti nama menjadi Mamba'ul Ma'arif. Dari situlalah,  dikenal sebagai Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif.

Kemudian ada tahun 1925, berdirilah Madrasah Tsanawiyah Putra yang kemudian disusul pada tahun 1958 dengan berdirinya Madrasah Tsanawiyah Putridi tahun 1958.

Kemudian tahun 1962 dibuka Madrasah Aliya Putra Putri dengan Nomer SK Menteri RI No. 24 Tahun 1969, dan pada tahun ini ada perubahan status yang awalnya swasta menjadi negeri yakni MTsM dan MAN. Dan dalam Perkembangannya kini berdiri SMK Bisri Syansuri pada tahun 1999.

Selain itu juga di Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif juga mendirikan institusi pendidikan penunjanh nilai keislaman, yang diaplikasikan dalam ilmu pengetahuan. Diantaranya Taman Pendidikan Al Qur'an (TPQ), Madrasah Diniyah,  dan Lembaga Bahasa Arab Inggris. 

"Saya sudah 6 tahun belajar Diniyah, ilmu yang saya dapat semoga bisa memberikan manfaat bagi saya dan orang-orang, semoga barokah di dunia dan akhirat" ujar Zidni alumni Madrasah Diniyah. 

Kemudian saya juga mewawancarai Zaim seorang alumni LBAI. Zaim mengungkapkan bahwa dengan belajar di LBAI memberikan banyak sekali manfaat. Berikut ungkapan Zaim "Dengan belajar bahasa Asing di LBAI saya dapat banyak manfaat, diantaranya saya jadi faham akan pentingnya bahasa asing dikehidupan kita".



NAMA : SYAFI'ATUL AMALAH

NIM : 04020120065

PRODI : KPI

KELAS : A4

Artikel mengenai Metode Dakwah Mauidhoh Hasanah



Hadits Riwayat Muslim No: 5048

و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ شَقِيقٍ أَبِي وَائِلٍ قَالَ كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُذَكِّرُنَا كُلَّ يَوْمِ خَمِيسٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّا نُحِبُّ حَدِيثَكَ وَنَشْتَهِيهِ وَلَوَدِدْنَا أَنَّكَ حَدَّثْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ فَقَالَ مَا يَمْنَعُنِي أَنْ أُحَدِّثَكُمْ إِلَّا كَرَاهِيَةُ أَنْ أُمِلَّكُمْ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ كَرَاهِيَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengkhabarkan kepada kami Jarir dari Manshur. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar, teks hadits miliknya, telah menceritakan kepada kami Fudhail bin Iyadh dari Manshur dari Syaqiq Abu Wa`il berkata: Abdullah menyampaikan nasehat untuk kami setiap hari kamis lalu seseorang berkata padanya: Hai Abu Abdurrahman, kami menyukai penyampaianmu. Kami ingin kau menceritakan kepada kami setiap hari. Abdullah berkata: Tidak ada yang menghalangiku untuk menceritakan kepada kalian selain karena aku tidak ingin membuat kalian jemu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam mengatur (penyampaian) nasehat pada kami dalam beberapa hari karena tidak mau membuat kami jemu.”

Secara Etimologi Al-mauizah Al-hasana terdiri dari dua kata, yaitu mau'izhah dan hasanah. Kata mau'izhah berasal dari kata wa'adza-ya'idzuwa'dzan-„idzatan yang berarti nasihat, bimbingan, pendidikan dan peringatan. Pengertian nasihat dalam Kamus Bahasa Indonesia balai pustaka adalah memberikan petunjuk kepada jalan yang benar. Juga berarti mengatakan sesuatu yang benar dengan cara melunakkan hati. Sedangkan menurut istilah adalah berdakwah dengan memberikan nasihat-nasihat/ menyampaikan ajaran Islam dengan rasa penuh cinta/ kasih sayang, sehingga ajaran Islam bisa mengena (menyentuh/ menancap) di hati mad’u.

Nasihat yang baik menurut Quthub sebagaimana yang dikutip oleh Muhazzab Said adalah nasihat yang dapat masuk kedalam jiwa manusia serta dapat menyejukkan hati, bukan nasihat yang dapat memerahkan telinga karena penuh dengan kecaman dan caci maki yang bukan pada tempatnya atau nasihat yang baik bukan dengan membuka dan membeberkan aib dan kesalahan orang lain yang terjadi karena tidak mengerti atau karena dengan motif yang baik. Nasihat yang baik adalah nasihat yang lemah lembut yang dapat melunakkan hati yang keras dan menyejukkan hati yang gersang. 

Mauizah hasanah dapatlah diartikan sebagai ungkapan yang mengandung unsur bimbingan, pendidikan, pengajaran, kisah-kisah nabi, berita gembira, peringatan, pesan-pesan positif (wasiyat) yang bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan agar mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.  

Metode-metode yang digunakan dalam maudhoh hasanah yakni, khitobah (lisan) artinya dalam penyampaian dakwah disampaikan secara lisan. Kemudian ada khitabah (tulisan), yakni berdakwah dalam bentuk tulisan, misalnya melalui buku. Dari beberapa defenisi di atas, Al-mauizah al-hasanah tersebut bisa diklasifikasikan dalam beberapa bentuk, yakni:

1. Nasihat atau petuah (panutan)

Pokok permasalahan yang dihadapi seorang da’i dalam menyampaikan nasihat adalah bagaimana menentukan cara yang tepat dan efektif dalam mengahadapi golongan dalam situasi dan kondisi tertentu. Ringkasnya seorang da’i menginginkan setiap nasihatnya dapat meresap kedalam hati mad’unya. 

Al-Qur’an juga menggunakan kalimat-kalimat yang menyentuh hati untuk mengarahkan manusia kepada ide-ide yang dikehendakinya seperti terdapat dalam QS. 31:13-19. Tetapi nasihat yang dikemukakannya itu tidak banyak manfaatnya jika tidak dibarengi dengan contoh teladan dari pemberi atau penyampai nasihat, dalam hal pribadi Rasulullah. Pada diri beliau telah terkumpul segala macam keistimewaan, sehingga orang-orang yang mendengar ajaran-ajaran al-Qur’an melihat penjelmaan ajaran tersebut dalam dirinya, yang pada akhirnya mendorong mereka untuk meyakini keistimewaan dan mencontoh pelaksanaannya. 

2. Wasiyat 

Washiyah berarti pesan atau perintah tentang sesuatu. Kegiatan menyampaikan washiyah disebut taushiyah. Secara etimologi kata wasiat berasal dari bahasa Arab, terambil dari kata Washa-Washiya-Washiatan yang berarti “pesan penting berhubungan dengan suatu hal”. Sedangkan pengertian wasiat dalam konteks dakwah adalah ucapan seorang da’i berupa pesan penting dalam upaya mengarahkan (taujih) kepada orang lain (mad’u) terhadap sesuatu yang belum dan akan terjadi (amran Sayaqa Mua’yan) yang bermanfaat dan bermuatan kebaikan.

3. Kisah-kisah Nabi

Kisah-kisah dalam al-Qur’an berkisar pada peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi dengan menyebut pelakupelaku dan tempat terjadinya (seperti kisah nabinabi), peristiwa yang telah terjadi dan masih dapat berulang kejadiannya, atau kisah simbolik yang tidak menggambarkan suatu peristiwa yang telah terjadi, namun dapat saja terjadi sewaktu-waktu.

4. Kabar gembira dan peringatan (al-Basyir dan al-Nadzir); dan wasiat (pesan-pesan positif).

Tabsyir adalah memberikan uraian keagamaan kepada orang lain yang isinya berupa berita-berita yang menggembirakan orang yang menerimanya, seperti berita tentang janji Allah berupa pahala dan surga bagi orang yang selalu beriman dan beramal saleh (Aziz, 2009: 26). Secara singkat tabsyir mempunyai tujuan untuk menguatkan dan memperkokoh keimanan, memberikan harapan, menumbuhkan semangat beramal, dan menghilangkan sifat keragu-raguan. 

Kebalikan dari tabsyir adalah tandzir yaitu menyampaikan uraian keagamaan kepada orang lain yang isinya peringatan atau ancaman bagi orang-orang yang melanggar syariat Allah SWT. Tandzir diberikan dengan harapan orang yang menerimanya tidak melakukan atau menghentikan perbuatan dosa. 



SYAFI’ATUL AMALAH – 04020120065

KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM – A4

TUGAS HADITS DAKWAH

Jumat, 05 November 2021

Bayu Putra: Jurnalis Harus Lebih Kreatif dan Produktif

Sidoarjo - Di era pandemi covid-19 mengingatkan bahwa pers harus mampu beradaptasi dengan cepat dan inovatif dalam menghadapi era pandemi ini. Selain itu, jurnalisme harus dijalankan secara bijak dan mempertimbangkan segala dampak yang ditimbulkan.

Mempersiapkan fisik dan mental menjadi sesuatu yang penting bagi seorang jurnalis, karena menjadi jurnalis tidak hanya sebagai notulen saja. “Jurnalis harus kaya wawasan selain tentu memiliki etika tentang jurnalistik itu sendiri, karena tidak sekedar menyampaikan tapi di situ ada makna edukasi’’ ujar Abdul Halim saat menyampaikan sambutan Workshop Jurnalistik, yang ditayangkan secara virtual melalui zoom meeting pada Kamis (28/10/2021).

Bayu mengatakan bahwa mencari berita ibaratkan jurnalis bak seorang koki, bahan belanjaan yang dicari koki ibarat berita yang sedang diliput jurnalis, maka dari itu perlunya keseimbangan agar mendapat berita yang baik dan bisa diterima masyarakat.

Lebih lanjut, Bayu mengungkapkan jurnalistik akan selalu dinamis, teknik penulisam bisa dijadikan pengembangan mata kuliah dengan membandingkan media cetak dan online. Bagaimana mereka menyajikan tulisan. Membandingkan bukan mencari siapa yang benar tapi untuk dapat mengetahui karakter – karakter dari berbagai media.

“Memperbanyak praktik daripada teori terutama untuk desain. Perlu disediakan lab untuk mendesain, disediakan berbagai software. Perlu memberikan tugas kontek jurnalistik yang bisa diterbitkan secara berkala. Ilmu untuk menyebarkan konten karena audien perlu mendapat konten tersebut. Bisa dimasukkan beritanya ke Website KPI. Selain itu, mahasiswa juga perlu melakukan liputan berita dengan deadline agar bisa melatih kecepatan dan ketepatan,’’tambah Iwan Iwe dan Bayu putra.



Penulis :

Nama   : Mohamad Rizal

Nim      : 04040120099

Kelas    : A4

Prodi    : KPI

Bayu Putra : Pandemi Covid-19 Menuntut Jurnalis Agar Lebih Kreatif


Mojokerto - Di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, seorang jurnalis dituntut memiliki kreatifitas tinggi dalam mencari sumber informasi. Pasalnya, sistem liputan menjadi serba terbatas.

Hal itu disampaikan Bayu Putra, Asisten Redaktur Jawa Pos Biro Jakarta saat Workshop Jurnalistik yang digelar Tim Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya, Kamis (28/10/2021).

Menurut Bayu, resiko terpapar Covid-19 bagi jurnalis sangat tinggi. Sebab, jurnalis memiliki cara kerja yang bersinggungan secara langsung dengan banyak orang atau narasumber.

Oleh karena itu, ungkap dia, banyak lembaga negara yang menerapkan sistem liputan secara virtual melalui video conference interaktif ataupun YouTube. "Jurnalis harus kreatif mencari sumber informasi karena sistem liputan yang serba terbatas," ungkap Bayu.

Selain itu, lanjut Bayu, menjadi seorang jurnalis diperlukan fisik dan mental yang kuat. Apalagi, harus melakukan peliputan di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini. "Sebagian harus tetap turun ke lapangan, bahkan berkerumun sehingga resiko terpapar Covid-19 tinggi," ujarnya.

Bayu menegaskan, bahwa tugas seorang jurnalis adalah bertanya dan mengklarifikasi. Namun tidak hanya itu saja, tentunya jurnalis juga harus memiliki kemampuan dalam menulis.

Di sisi lain, ia juga menyampaikan bahwa jurnalistik juga akan terus dinamis. Bahkan, kata dia, teknik penulisan juga bisa dijadikan para akademisi untuk pengembangan mata kuliah dengan membandingkan media cetak dan online.

"Bagaimana mereka menyajikan tulisan, membandingkan bukan mencari siapa yang benar tapi untuk dapat mengetahui karakter-karakter dari berbagai media. Pengembangan melalui praktek langsung, mulai dibekali dengan kartu pers yang ditandatangi oleh pak dekan dan bekerja sama dengan dewan pers," tandasnya.

Sebagai informasi, Workshop Jurnalistik tersebut bartajuk “Proses Produksi Berita Dan Desain Media Cetak”. Kegiatan tersebut, dipandu oleh Fikry Zahria Emeraldien, Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Sedangkan Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Dr. H. Abd. Halim, M.Ag menjadi pembuka workshop tersebut. Selain itu, hadir pula dalam kegiatan itu, sebagai pemateri yaitu Desainer Media Cetak dan Content Creator, Iwan Iwe.




Tentang Penulis:

Nama : Citra Amalya Safitri 

Nim : 04040120082

Kelas : A4

Prodi : KPI


Workshop Penguatan Kompetensi Jurnalistik Media Cetak Bagi Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya


Dalam Workshop Penguatan Kompetensi Jurnalistik Media Cetak Bagi Mahasiswa Komunikasi Dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya

Forum workshop jurnalistik adalah salah satu urat nadi pengembangan islam dan di fakultas dakwah. Beliau berterima kasih kepada seluruh tim dan dosen yang terus berikhtiar untuk memperkuat kompetensi pengetahuan dan skill khususnya mahasiswa kpi. 

Berbicara jurnalistik, sesungguhnya memiliki cantolan dan pijakan yangg kuat secara normative dan historis. Surat Al - Alaq merupakan pijakan bagi kita umat Islam agar menyadari bahwa allah telah memberikan seperangkat instrumen untuk mentransformasikan nilai keislaman dan kemanusiaan, ke public melalui pena. Allah memerintahkan untuk membaca. 

Oleh karena itu, prodi KPI menjadi urat nadi penting di lembaga FDK untuk mengejawantahkan dan mewujudkan perintah Allah kepada kita, secara tidak langsung akan menjadi jurnalis muslim. Sumber pengetahuan tidak pernah habis untuk ditulis, apalagi tentang kebesaran Allah tentang alam beserta isinya. Satu kewajiban dan

Menjunjung tema “Proses Prosuksi Berita Dan Desain Media Cetak”, workshop tersebut dipandu oleh Fikry Zahria Emeraldien, S.I.Kom.,M.A. Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam, dibuka oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Dr. H. Abd. Halim, M.Ag. dan juga dihadiri oleh dua pemateri yaitu  Iwan Iwe selaku desainer media cetak dan content creator, Bayu Putra selaku asisten redaktur Jawa Pos. Dan juga dihadiri oleh Mahasiswa KPI UINSA. 

Menurut Dekan, Dr. H. Abd. Halim, M.Ag. Berbicara jurnalistik sesungguhnya memiliki cantolan dan pijakan yangg kuat secara normative dan historis. Surat Al - Alaq merupakan pijakan bagi kita umat Islam agar menyadari bahwa allah telah memberikan seperangkat instrumen untuk mentransformasikan nilai keislaman dan kemanusiaan, ke public melalui pena.

Menurut Bayu Putra, Tugas wartawan adalah bertanya, mengklarifikasi. Bedanya terdapat pada jenis narasumber yang membawa konsekuensi cukup banyak untuk jurnalis. Tidak hanya itu jurnalis juga harus mempunyai kemampuan menulis dan juga menjaga fisik dan mental yang kuat.

Salah satu tantangan seorang jurnalis yang dijelaskan oleh Bayu Putra adalah mewawancarai banyak narasumber dalam waktu bersamaan. Tentu hal ini memerlukan konsentrasi dan kecekatan agar mendapat hasil maksimal dari banyaknya narasumber

Hal lain yang harus difikirkan seorang jurnalis adalah desain dalam media cetak. Desain halaman khususnya penting disiapkan karena agar pembaca dapat menikmati desain dan juga bisa menarik pembaca.

Dalam kesempatan workshop tersebut, Iwan Iwe menghimbau agar Mahasiswa memperbanyak praktik daripada teori terutama untuk desain. Untuk fasilitas Prodi perlu disediakan lab untuk mendesain, dan juga disediakan berbagai software. Ilmu untuk menyebarkan konten karena audien perlu mendapat konten tersebut. Mahasiswa juga perlu melakukan liputan berita dengan deadline yang ketat guna melatih kecepatan dan ketepatan. Lalu hasil berita bisa dimasukkan ke Website KPI.



NAMA : SHINTA PURNAMA SARI 

NIM     : 04040120114

KELAS : A4

PRODI : KPI

Dekan FDK: Berbicara Jurnalistik Harus Miliki Pijakan Normatif dan Historis



Kamis (28/10) Abdul Halim selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Komunuikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya membuka Workshop Jurnalistik yang bertajuk  “Proses Produksi Berita dan Desain Media Cetak”. Dalam Pembukaanya Halim mengatakan bahwa ketika berbicara prihal jurnalistik harus memiliki pijakan yang kuat baik secara normatif maupun historis.

“secara normatif seperti pada surat Al Alaq, khususnya kita sebagai umat Islam menyadari bahwa Allah SWT telah memberikan seprangkat instrument untuk mentranformasikan nilai-nilai keislaman, kemanusiaan maupun nilai-nilai yang lain kepada publik melalui pena,” ujarnya lelaki berkopyah hitam tersebut.

Lelaki berpakaian batik tersebut juga menambahkan penjelasan bahwa di Surat Al Alaq, Allah SWT memerintahkan secara tegas kepada mahluknya untuk membaca ayat-ayat secara tertulis, baik secara empiris atau qauniah. Karna Allah SWT mengajarkan kepada mahluknya dengan prantara pena.

“Apalagi makna pena kalau bukan alat penting untuk menggoreskan tulisan atau pesan-pesan yang mengandung sepirit agama,” tambahnya.

Selain itu Dekan FDK tersebut dalam penjelasannya juga menjelaskan bahwa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) merupakan bagian penting yang mewujudkan jurnalis muslim yang mensyiarkan dengan tulisan mengenai kebesaran Allah SWT. yang tidak akan ada habisnya, dan juga mengandung pesan kemanusiaan. Menjadi jurnalis muslim adalah kesempatan untuk berdakwah dengan menggunakan tulisan.

Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) mengundang pegiat awak media yakni Bayu Putra dari Asisten Redaktur Jawa Pos dan Iwan Iwe Desainer Media Cetak dan Konten Kreator sebagai narasumber dalam workshop jurnalistik yang diadakan. Kedua narasumber tersebut diundang dikarenakan sesuai dan sangat berkaitan dalam proses perkembangan prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi tersebut juga menyatakan bahwa setelah workshop jutnalisitik diadakan, ada sebuah hasil yang akan dihasilkan oleh mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) sebagai bukti tanggung jawab dan pengimplementasian dari materi yang disampaikan dalam workshop.



Nama : Qurrotul 'Aini

Nim : 04020120058

Prodi/Kelas : Komunikasi dan Penyiaran Islam/A4

Suka Duka Liputan di Istana Negara

Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam menyelenggarakan workshop bertajuk “Proses Produksi Berita dan Desain Media Cetak”. Workshop yang dihadiri oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini berlangsung pada 28 Oktober 2021 melalui zoom meeting. 

Acara tersebut juga mengundang dua narasumber hebat, yaitu Bayu Putra dan Iwan Iwe. Bayu merupakan seorang jurnalis yang pernah bekerja di istana Negara. Sedangkan, Iwan adalah desainer handal yang juga pernah menjadi seorang layouter. 

Pada kesempatan itu, Bayu membagikan pengalamannya menjadi jurnalis istana Negara. Dengan judul “Hari – hari bersama presiden, kisah liputan media cetak di Istana Presiden”, ia mengawali pemaparannya. 

Bayu mengibaratkan dalam pencarian berita, jurnalis bak seorang koki. Bahan belanjaan yang dicari koki ibarat berita yang sedang diliput oleh jurnalis. Perlu adanya kesesuaian agar tercipta berita yang baik dan dapat diterima oleh masyarakat. 

“Tugas wartawan adalah bertanya, mengklarifikasi. Bedanya terdapat pada jenis narasumber yang membawa konsekuensi cukup banyaj untuk jurnalis”, ujar pria yang sudah melepas masa lajangnya tersebut. 

Bayu menjelaskan bahwa menjadi jurnalis istana bukan merupakan perkara mudah. Pasalnya, narasumber yang harus ia hadapi merupakan orang - orang penting yang berpengaruh pada negara. 

Dalam meliput berita di istana, terdapat beberapa kekhususan yang harus dipatuhi oleh jurnalis. Bayu menyebutkan setidaknya ada 4 hal di antaranya, protokoler, ID pers, outfit, dan perilaku. 

Ada pula beberapa tantangan yang harus dilalui seorang jurnalis ketika meliput di istana negara. Bayu bercerita bahwa seorang jurnalis dituntut untuk harus selalu siap siaga dan fleksibel dalam melakukan liputan. 

Selain itu, pria yang juga menjadi jurnalis di Jawa Pos ini menjelaskan hal penting yang harus dilakukan oleh jurnalis istana negara. Berdasarkan pengalamannya, ia harus datang lebih awal dari jadwal agar dapat melakukan persiapan yang matang. Ia juga menyinggung tentang fisik yang harus prima, “Kegiatan di istana itu sangat padat, oleh karena itu jurnalis harus selalu dalam fisik yang bagus.”, ucapnya. 

Menjadi jurnalis istana negara ada suka dukanya. Setelah menjelaskan panjang lebar mengenai dukanya, ia juga membagi pengalaman sukanya menjadi jurnalis istana. Dengan menjadi jurnalis istana, Bayu sering bertemu dengan orang – orang yang berpengaruh. 

Selain itu, ia juga kerap kali meliput di luar kota, mengikuti kemana Presiden pergi. Tidak hanya itu, tentunya Bayu mendapatkan pengalaman berharga yang belum tentu didapatkan oleh jurnalis lain.



Nama   : Alya Nurmaya Putri

NIM    : 04020120035

Kelas   : KPI/A4


Tertarik Menjadi Wartawan di Istana Negara?

Berikut Pengalaman Bayu Putra Seorang Asisten Redaktur Jawa Pos Saat Menjadi Seorang Jurnalis di Istana Negara.











JOMBANG (28/10) - Workshop Jurnalistik KPI kembali digelar oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dengan tema "Proses Produksi Berita dan Desain Media Cetak". Acara itu diselenggarakan secara online melalui via Zoom meeting pada hari Kamis, 28 Oktober 2021.

Acara itu dihadiri oleh dua narasumber yang sangat luar biasa, yakni Bayu Putra seorang asisten redaktur Jawa Pos dan Iwan Iwe seorang desainer media cetak dan content creator yang dimoderatori oleh Fikry Zahria Emeraldien, S.I.Kom., M.A., dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Acara itu dibuka oleh Dekan FDK Uinsa Dr. H. Abd. Halim, M.Ag. Beliau mengungkapkan bahwa Workshop Jurnalistik KPI merupakan adalah salah satu urat nadi pengembangan Islam dan di Fakultas Dakwah. Beliau berterima kasih kepada seluruh tim dan dosen yang terus berikhtiar untuk memperkuat kompetensi pengetahuan dan skill khususnya mahasiswa.

Bayu menyampaikan bahwa dalam pembuatan atau penulisan berita yang paling dinamis terletak pada bagian pencarian dan dalam pencarian berita yang baik diperlukan cara-cara yang bermacam-macam. Bayu menuturkan bahwasanya liputan di istana negara sama saja prinsipnya liputan di polsek, pemkot, pemkab, tugas seorang wartawan hanya satu yakni bertanya (mengklarifikasi) tidak ada yang lain, hanya saja letak perbedanya terletak pada jenis narasumbernya yang dapat memberi  konsekuensi tambahan yang cukup banyak.

Ada empat kekhususan dasar dalam melakukkan liputan di istana negara, diantaranya protokoler, ID pers, outfit, dan perilaku. Terkait outfit setidaknya ada tiga outfit yang biasa digunakkan oleh seorang jurnalis.

1. PSL = Pakaian Sipil Lengkap, dimulai dari setelan jas dari atas smpek bawah yakni sepatu formal. Misalnya pada acara-acara kenegaraan, seperti upacara hari kemerdekaan atau penerimaan tamu negara.

2. Baju batik lengan panjang = biasa digunakkan saat acara ceremony internal di istana negara dengan tujuan menghormati acara tersebut. Contohnya seperti pelantikan pejabat.

3. Kemeja = digunakkan untuk liputan sehari-hari.

"Prinsip utama liputan di istana negara yang pertama yakni terkait keamanan kepala negara menjadi nomer satu apapun yang terjadi" ujar Bayu. Kemudian, narasumber yang hadir di istana akan menjadi tempat klarifikasi dari hasil reset yang dilakukkan wartawan sebelumnya untuk mencari kebenaran atas isu yang terjadi.

Bayu juga menyampaikan beberapa tantangan yang pernah ia hadapi dalam liputan di istana. Pertama, kita harus cepat memahami semua bidang yang menjadi urusan negara. Kedua, kerap mendapatkan narasumber yang tak terduga, yang kemudian mengakibatkan terjadinya proses riset wawancara yang sangat singkat. Ketiga, sabar menunggu dinamika yang sedang berlangsung, bisa singkat bisa juga sampai berjam-jam. Keempat, berlarian ke kompleks dalam istana dikarenakan adanya agenda presiden yang mendadak. Kelima, mempertahankan posisi saat wawancara doorstop. Keenam, mewawancarai banyak narasumber dalam waktu yang bersamaan, dan tantangan yang lainnya.

Bayu juga menyampaikan bahwa sebagian harus tetap turun ke lapangan, meskipun terjadi adanya kerumunan. Kemudian seorang wartawan dituntut untuk krestif dalam mencari sumber informasi karena adanya sistem liputan yang serba terbatas.

"Menjadi seorang wartawan istana harus bisa melihat bagaimana presiden dan wapres bekerja, juga para pembantunya dalam mengambil kebijakan. Wartawan sebagai representasi kepresidenan. Dan wartawan bukanlah humas bagi seorang presiden." tegas Bayu.




Tentang Penulis 

Nama   :           Syafi’atul Amalah

NIM      :           04020120065

Prodi    :         Komunikasi dan Penyiaran Islam

Kelas    :           A4

Tugas   :           Pengantar Jurnalistik

Senin, 25 Oktober 2021

PENJELASAN KHUTBAH NABI SAAT BERADA DI ARAFAH (Shahih Bukhari, No: 1625)












A. Hadits Shahih Bukhari, No: 1625

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ حَدَّثَنَا قُرَّةُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ وَرَجُلٌ أَفْضَلُ فِي نَفْسِي مِنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَطَبَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ قَالَ أَتَدْرُونَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ قَالَ أَلَيْسَ يَوْمَ النَّحْرِ قُلْنَا بَلَى قَالَ أَيُّ شَهْرٍ هَذَا قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ فَقَالَ أَلَيْسَ ذُو الْحَجَّةِ قُلْنَا بَلَى قَالَ أَيُّ بَلَدٍ هَذَا قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ قَالَ أَلَيْسَتْ بِالْبَلْدَةِ الْحَرَامِ قُلْنَا بَلَى قَالَ فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا إِلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ قَالُوا نَعَمْ قَالَ اللَّهُمَّ اشْهَدْ فَلْيُبَلِّغْ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ فَلَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ 

Artinya: "Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Muhammad] telah menceritakan kepada saya [Abu 'Amir] telah menceritakan kepada kami [Qurrah] dari [Muhammad bin Sirin] berkata, telah mengabarkan kepada saya ['Abdurrahman bin Abu Bakrah] dari [Abu Bakrah] dan dari orang-orang yang lebih utama, dari 'Abdurrahman [Humaid bin 'Abdurrahman] dari [Abu Bakrah] radliallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan khathbah kepada kami pada hari Nahar, Beliau bertanya: "Apakah kalian mengetahui, hari apakah ini?". Kami menjawab: "Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui". Sejenak Beliau terdiam sehingga kami menduga bahwa Beliau akan menamakannya bukan dengan namanya (yang sudah kami kenal) ". Beliau bersabda: "Bukankah sekarang ini hari Nahar?". Kami menjawab: "Benar". Beliau bertanya lagi: "Bulan apakah ini?". Kami menjawab: "Allah dan rasulNya yang lebih mengetahui". Sejenak Beliau terdiam lagi sehingga kami menduga bahwa Beliau akan menamakannya bukan dengan namanya (yang sudah kami kenal) ". Beliau bersabda: "Bukankah ini bulan Dzul Hijjah?". Kami menjawab: "Benar". Kemudian Beliau bertanya lagi: "Negeri apakah ini?". Kami menjawab: "Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui". Sejenak Beliau kembali terdiam sehingga sekali lagi kamipun menduga bahwa Beliau akan menamakannya bukan dengan namanya (yang sudah kami kenal) ". Beliau bersabda: "Bukankah ini negeri haram?". Kami menjawab: "Benar". Lalu Beliau bersabda: "Sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian haram atas kalian sebagaimana haramnya hari kalian ini, pada bulan kalian ini dan di negeri kalian ini hingga hari kalian berjumpa dengan Rabb kalian. Bukankah aku telah menyampaikannya?". Mereka menjawab: Ya, sudah". Kemudian Beliau melanjutkan: "Ya Allah, saksikanlah. Maka hendaklah yang menyaksikan menyampaikannya kepada yang tidak hadir, karena betapa banyak orang yang disampaikan dapat lebih mengerti dari pada orang yang mendengar. Dan janganlah kalian kembali menjadi kafir sepeninggalku, kalian saling memukul tengkuk kalian satu sama lain (saling membunuh)."

B. Hadis Penguat: 

Shahih Bukhari 1626, Shahih Bukhari 5583, Shahih Bukhari 6551, Shahih Muslim 3180, Sunan Abu Daud 1628, Sunan Tirmidzi 3012, Sunan Ibnu Majah 3046, Musnad Ahmad 13846, Musnad Ahmad 14461, Musnad Ahmad 17973, Musnad Ahmad 18198, Musnad Ahmad 19492, Musnad Ahmad 19493, Musnad Ahmad 19512, Musnad Ahmad 19523, Musnad Ahmad 19774, Musnad Darimi 1836.

C. Penjelasan dari Shahih Bukhari, No: 1625

Saat Nabi Muhammad sampai di desa sebelah timur Arafah (Namirah), Nabi Muhammad menyampaikan khutbah terakhinya dengan suara yang lantang. Inti dari isi khutbah Nabi yakni membahas mengenai amar ma’ruf nahi munkar. Diantaranya tentang mengemban amanat yang harus dijaga, larangan untuk melakukan riba, tanah Haram (Makkah), seruan untuk berdakwah, amanat untuk tidak keluar dari agama Islam (murtad), dan larangan untuk saling membunuh, dan menyampaikan mengenai keutamaan bulan Dzul Hijjah. 

Selesai Nabi menyampaikan khutbah terakhirnya itu, Nabi turun dari untanya yang bernama al-Qashwa. Nabi masih berada di tempat itu sampai pada waktu shalat Dzhuhur dan Ashar. Kemudian menaiki kembali untanya menuju Shakharat. Pada waktu itulah Nabi membacakan firman Allah kepada kaumnya, yaitu surat al-Maidah ayat 3. Saat mendengarkan ayat itu, Abu Bakar menangis dan dia merasa bahwa risalah Nabi sudah selesai dan sudah dekat pula saatnya Nabi hendak menghadap Allah SWT.


SYAFI’ATUL AMALAH – 04020120065

KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM – A4

TUGAS HADITS DAKWAH

Senin, 18 Oktober 2021

Artikel Hadits Shohih Riwayat Muslim No. 70



A.      Hadits Shohih Riwayat Muslim: no. 70

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ كِلَاهُمَا عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي بَكْرٍ قَالَ أَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ فَقَالَ قَدْ تُرِكَ مَا هُنَالِكَ فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ فِي قِصَّةِ مَرْوَانَ وَحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ شُعْبَةَ وَسُفْيَانَ

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Sufyan]. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin al-Mutsanna] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] keduanya dari [Qais bin Muslim] dari [Thariq bin Syihab] dan ini adalah hadits Abu Bakar, "Orang pertama yang berkhutbah pada Hari Raya sebelum shalat Hari Raya didirikan ialah Marwan. Lalu seorang lelaki berdiri dan berkata kepadanya, "Shalat Hari Raya hendaklah dilakukan sebelum membaca khutbah." Marwan menjawab, "Sungguh, apa yang ada dalam khutbah sudah banyak ditinggalkan." Kemudian [Abu Said] berkata, "Sungguh, orang ini telah memutuskan (melakukan) sebagaimana yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda: "Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman." Telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib Muhammad bin al-Ala'] telah menceritakan kepada kami [Abu Mua'wiyah] telah menceritakan kepada kami [al-A'masy] dari [Ismail bin Raja'] dari [bapaknya] dari [Abu Sa'id al-Khudri] dari [Qais bin Muslim] dari [Thariq bin Syihab] dari [Abu Sa'id al-Khudri] dalam kisah Marwan, dan hadits Abu Sa'id dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, seperti hadits Syu'bah dan Sufyan."

B.      Memahami Hadist

1. Perintah kepada siapa saja yang melihat kemungkaran untuk mengubahnya sesuai kemampuan yang dimiliki seseorang.

Salah satu yang bisa dilakukan saat melihat kemungkaran yakni dengan menunjukkan sikap harus menunjukkan sikap pembelaan dan loyalitasnya kepada Allah dengan berusaha mengubah kemungkaran tersebut. oleh sebab itu, saat melihat kemungkaran, kita seorang mukmin tidak boleh abai, diam, apalagi sampai ridha dan mendukung. Itulah ciri dari mukmin sejati. Allah berfirman, "Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Kalian menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran," (QS. Ali-Imran: 110).

2. Melarang suatu kemungkaran sampai diyakini bahwa hal itu adalah benar-benar kemungkaran. Bukan merupakan sesuatu yang masih bersifat khilafiyah. Nabi SAW menyebut kemungkaran dalam bentuk nakirah (indefinit). Apa artinya? Artinya, kemungkaran yang dimaksud berlaku umum. Berlaku pada semua jenis kemungkaran. Berlaku pada semua tindakan yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasul SAW (amal ma’rufnahi munkar). Dengan demikian, ia tidak hanya terbatas pada urusan akidah, ibadah mahdah, dan seterusnya.

3. Tangan bisa bermakna tangan secara fisik, atau tangan secara maknawi, yaitu kekuasaan.

Mengubah kemungkaran dengan tangan (kekuasaan) diletakkan oleh Nabi SAW dalam urutan pertama. Mengapa demikian? Karena, kekuasaan itulah yang memiliki peran paling strategis dan efektif dalam mengubah kemungkaran. Apalagi, kemungkaran yang terjadi bersifat masif. Betapa banyak dakwah, nasihat, dan petuah agama disampaikan tetapi menjadi kurang efektif saat dirusak oleh tayangan media dan regulasi kebijakan yang menyimpang atau tidak sesuai dengan apa yang disampaikan.

Mengubah kemungkaran menjadi sangat efektif ketika dilakukan lewat kekuasaan. Namun, jika kekuasaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, yang tidak layak, yang tidak beriman, maka tunggu saat kehancurannya. Rasul SAW bersabda, "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya, "Bagaimana maksud amanat disia-siakan?" Nabi menjawab, "Jika urusan diserahkan bukan kepada orang yang tidak tepat, tunggulah kehancuran itu." (HR al-Bukhari).

4. Iman adalah kombinasi antara keyakinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan ditunjukkan dalam bentuk amal perbuatan.

Ada ulama yang menyatakan iman itu adalah ucapan dan perbuatan. Iman ini dinamakan juga ucapan hati. Makna iman yang ada di dalam hati juga berati lawan dari kekafiran. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa iman adalah keyakinan yang terbentuk di dalam hati dan itu adalah makna iman yang utama. Kata iman dalam Al Quran dan As-Sunnah diartikan sebagai amal (aktivitas). Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 143. Artinya: "Dan Allah akan menyia-nyiakan imanmu." Maksud dari imanmu adalah salatmu (wahai Muhammad) yang kau kerjakan ketika masih berkiblat ke arah Baitul Maqdis. Iman merupakan keyakinan dalam hati yang dituturkan dengan lisan dan diamalkan dalam perbuatan. Itulah pendapat mayoritas ulama.

Menurut Imam Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, Al Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, iman adalah pembenaran dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan aman dengan anggota badan. Para ulama salaf menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Banyak di antara ulama madzhab Hanafi yang mengikuti definisi sebagaimana yang disebutkan oleh Ath-Thahawi. Iman adalah pengakuan dengan lisan dan pembenaran dengan hati. Ada pula yang mengatakan bahwa pengakuan dengan lisan adalah rukun tambahan saja dan bukan rukun asli.




SYAFI’ATUL AMALAH – 04020120065

KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM – A4

TUGAS HADITS DAKWAH

Minggu, 10 Oktober 2021

Hadits Shohih Riwayat Muslim 4348 - Tentang berdakwah sesuai dengan kemampuan

 












A.           Hadits Shohih Riwayat Muslim 4348

حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى التُّجِيبِيُّ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَسَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ قَالَا كَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُ

أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي خَلَفٍ حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ وَهُوَ مَنْصُورُ بْنُ سَلَمَةَ الْخُزَاعِيُّ أَخْبَرَنَا لَيْثٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْهَادِ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ سَوَاءً حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي كِلَاهُمَا عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ يَعْنِي الْحِزَامِيَّ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ح و حَدَّثَنَاه عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ كُلُّهُمْ قَالَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ وَفِي حَدِيثِ هَمَّامٍ مَا تُرِكْتُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ثُمَّ ذَكَرُوا نَحْوَ حَدِيثِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدٍ وَأَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

Artinya: "Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya At Tujibi; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb; Telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab; Telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin 'Abdur Rahman dan Sa'id bin Al Musayyab keduanya berkata; Abu Hurairah bercerita bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apa yang telah aku larang untukmu maka jauhilah. Dan apa yang kuperintahkan kepadamu, maka kerjakanlah dengan sekuat tenaga kalian. Sesungguhnya umat sebelum kalian binasa karena mereka banyak tanya, dan sering berselisih dengan para Nabi mereka." Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ahmad bin Abu Khalaf; Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah yaitu Manshur bin Salamah Al Khuza'i; Telah mengabarkan kepada kami Laits dari yazid bin Al Had dari Ibnu Syihab melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib keduanya Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair; Telah menceritakan kepada kami Bapakku seluruhnya dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id Telah menceritakan kepada kami Al Mughirah yaitu Al Hizami; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Umar; Telah menceritakan kepada kami Sufyan seluruhnya dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakannya kepada kami 'Ubaidullah bin Mu'adz; Telah menceritakan kepada kami Bapakku Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Muhammad bin Ziyad dia mendengar Abu Hurairah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi'; Telah menceritakan kepada kami 'Abdur Razzaq; Telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Hammam bin Minabbih dari Abu Hurairah seluruhnya dia berkata dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sabda: 'Tinggalkanlah oleh kalian apa yang telah aku larang…sedangkan di dalam Hadits Hammam dengan lafazh 'Turiktum', (yang telah aku suruh untuk meninggalkannya) karena celakanya umat sebelum kalian dikarenakan…-kemudian mereka menyebutkan Hadits yang serupa dengan Hadits Az Zuhri dari Sa'id dari Abu Salamah dari Abu Hurairah".

B. Perawi

Nama Lengkap: Harmalah bin Yahya bin 'Abdullah bin Harmalah. 

Kalangan: Tabi'ul Atba' kalangan pertengahan. 

Kuniyah : Abu Hafsh. Negeri semasa hidup : Maru. 

Wafat : 244 H.

C. Sanad

Jalur sanad ke- 1: 

Abdur Rahman bin Shakhr -  Dzakwan - Sulaiman bin Mihran - Muhammad bin Khazim Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah Ibrahim bin 'Utsman.

D. Hadits Penguat

Salah satu hadits penguatnya yakni, Hadits Ibnu Majjah No. 1

وَهُوَ الْأَثَرُ الْمَشْهُورُ

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ أَيْضًا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ شُعْبَةَ وَسُفْيَانَ عَنْ حَبِيبٍ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ

Artinya: "Dan ia merupakan atsar yang masyhur dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Barangsiapa menceritakan hadits dariku, yang mana riwayat itu diduga adalah kebohongan, maka dia (perawi) adalah salah satu dari para pembohong tersebut." Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dari Syu'bah dari al Hakam dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Samurah bin Jundab. (dalam riwayat lain disebutkan) dan juga telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dari Syu'bah dan Sufyan dari Habib dari Maimun bin Abu Syabib dari al-Mughirah bin Syu'bah keduanya berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang hal tersebut".




SYAFI’ATUL AMALAH – 04020120065

KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM – A4

TUGAS HADITS DAKWAH

HADITS RIWAYAT MUSLIM 3509 - Tentang Orang Yang Mengajak Kebaikan, Akan Mendapat Pahala Dari Allah

A.            Hadits Shohih Riwayat Muslim 3509

وَهُوَ الْأَثَرُ الْمَشْهُورُعَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ أَيْضًا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ شُعْبَةَ وَسُفْيَانَ عَنْ حَبِيبٍ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ

"Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib dan Ibnu Abu Umar dan ini adalah lafadz Abu Kuraib, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Abu 'Amru As Syaibani dari Abu Mas'ud Al Anshari dia berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Wahai Rasulullah, jalan kami telah terputus karena hewan tungganganku telah mati, oleh karena itu bawalah saya dengan hewan tunggangan yang lain." Maka beliau bersabda: "Saya tidak memiliki (hewan tunggangan yang lain)." Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berkata, "Wahai Rasulullah, saya dapat menunjukkan seseorang yang dapat membawanya (memperoleh penggantinya)." Maka beliau bersabda: "Barangsiapa dapat menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya." Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Bisyr bin Khalid telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja'far dari Syu'bah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi' telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan semuanya dari Al A'masy dengan sanad ini".

B.            Perawi

Nama Lengkap : Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah Ibrahim bin 'Utsman

Kalangan : Tabi'ul Atba' kalangan tua

Kuniyah : Abu Bakar

Negeri semasa hidup : Kufah

Wafat : 235 H

C.            Sanad

Uqbah bin 'Amru bin Tsa'labah - Sa'ad bin Iyas - Sulaiman bin Mihran - Muhammad bin Khazim - Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah Ibrahim bin 'Utsman.

D.            Hadits penguatan

Salah satu hadits penguatnya yakni Hadist Abu Daud no 4464

وَهُوَ الْأَثَرُ الْمَشْهُورُعَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ أَيْضًا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ شُعْبَةَ وَسُفْيَانَ عَنْ حَبِيبٍ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ

Artinya: “Dan ia merupakan atsar yang masyhur dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Barangsiapa menceritakan hadits dariku, yang mana riwayat itu diduga adalah kebohongan, maka dia (perawi) adalah salah satu dari para pembohong tersebut." Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dari Syu'bah dari al Hakam dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Samurah bin Jundab. (dalam riwayat lain disebutkan) dan juga telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dari Syu'bah dan Sufyan dari Habib dari Maimun bin Abu Syabib dari al-Mughirah bin Syu'bah keduanya berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang hal tersebut."

 


SYAFI’ATUL AMALAH – 04020120065

KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM – A4

TUGAS HADITS DAKWAH