Jumat, 12 November 2021

Tradisi Sembelih Kerbau, Ruwah Desa Puri Mojokerto



Indonesia adalah negara yang kaya akan tradisi dan budaya. Setiap suku, setiap daerah, pasti berbeda tradisi dan budayanya. Salah satu tradisi yang hingga saat ini masih sering di jumpai adalah tradisi ruwah desa. 

Ruwah desa adalah sebuah tradisi yang diadakan dengan berbagai macam kegiatan sebagai rasa syukur, mengenang, dan mendoakan para leluhur sebuah daerah. Salah satu daerah itu adalah Desa Puri, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.

Warga Desa Puri memiliki sebuah tradisi ruwah desa yang setiap tahunya pasti dilaksanakan pada bulan Ruwah atau dalam agama Islam dikenal dengan bulan Sya'ban, sebelum Romadhon.

Sama halnya dengan daerah lain. Dalam perayaannya, Kepala Desa Puri biasanya mengajak warga berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan. Kegiatan ruwah Desa Puri biasanya adalah dengan mengadakan syukuran atau warga setempat menyebutnya "bancaan."

Syukuran tersebut diadakan di pohon beringin besar yang berada di Desa Puri tersebut. Pohon tersebut dikenal warga dengan nama "Gelang". Pohon tersebut adalah salah satu pohon yang dikeramatkan oleh warga Desa Puri, tapi juga ada beberapa pohon lain yang sering juga di gunakan untuk syukuran. Memang warga Desa Puri hingga saat ini masih sangat kental dengan tradisi tradisi yang dijalankan oleh leluhur desa, tak jarang dalam acara apapun, ruwah desa, pernikahan, atau mengadakan pertunjukan, warga Desa Puri tidak pernah lupa untuk syukuran "bancaan" pada pohon pohon besar yang dikeramatkan. Gelang selain dikeramatkan oleh warga Desa Puri, juga ada daerah lain yang sering mengunjungi gelang untuk melakukan sebuah ritual. Bahkan saat ini Gelang juga menjadi destinasi tempat yang sering dikunjungi walaupun hanya sekedar bermain atau mampir, namun tetap dengan menjaga tata krama yang ada.

Setelah syukuran, yang menjadi pembeda warga Desa Puri dengan daerah lainnya adalah pada saat ruwah desa, warga Desa Puri wajib menyembelih kerbau. "Setiap tahun harus ada 1 kerbau yang di sembelih untuk acara ruwah desa, hal itu sudah turun temurun, jadi kita sebagai penerus harus melaksanakan itu. Tidak boleh tidak." Tutur Waluyo, warga Desa Puri.

Penyembelihan kerbau dilaksanakan di balai desa Puri, dengan disaksikan petinggi desa, tetua desa, dan warga setempat. Daging kerbaunya biasanya dibagi pada warga satu desa, kemudian sisanya dimasak oleh pemerintah desa pada saat acara untuk makan bersama. Dan darah dari kerbau tersebut di buang atau dialirkan pada sebuah tempat yang disebut oleh warga Desa Puri adalah sumber air. "Darah kerbau itu harus di buang di sumber, tujuannya agar sumber air tersebut tetap mengalir dan berguna untuk warga Desa Puri." Tutur Sutarno, sesepuh Desa Puri. Sumber yang dimaksud berada kurang lebih sekitar 1 kilo dari daerah pohon besar "Gelang".

Dalam lingkungan warga Desa Puri juga beredar mitos yang sangat dipegang dan dipercaya, yaitu jika dalam satu tahun warga Desa Puri tidak menyembelih kerbau untuk ruwah desa, maka warga Desa Puri akan mendapatkan wabah. Hal itu juga yang melatar belakangi tradisi ruwah desa dengan menyembelih kerbau berkembang hingga zaman yang sudah modern seperti ini.

Rangkaian acara ruwah Desa Puri tidak berhenti pada penyembelihan kerbau saja, tapi malam hari biasanya acaranya adalah dimulai dengan istighosah bersama seluruh warga desa Puri di balai desa, Setelah istighosah bersama biasanya pemerintah desa juga menggelar pertunjukan wayang kulit. Namun 2 tahun terakhir pertunjukan tersebut tidak ada, dikarenakan pandemi covid-19.



Qurrotul Aini - 04020120058

Tidak ada komentar:

Posting Komentar