Minggu, 19 September 2021

Sampaikan Dariku, Walau Satu Ayat


Islam adalah satu-satunya agama yang sempurna dan Islam juga merupakan agama yang diridloi Allah swt, maka sudah sewajarnya Nabi Muhammad saw memerintahkan umatnya untuk penyampaikan ajaran Islam. Dalam menyampaikan ajaran Islampun terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Mulai dari hal yang berkaitan dengan diri seorang da’i sampai dengan mad’u. Dalam berdakwah seorang da’i dituntut untuk selalu peka terhadap apa yang sedang terjadi. Seorang da’i harus mempunyai ilmu yang menyeluruh, tidak dipotong-potong, dan matang.

Perlu kita ketahui bahwasannya berdakwah merupakan suatu kewajiban yang wajib dilaksanakan oleh seorang Muslim. Sebagaimana pada hadits yang artinya “sampaikan dariku, walau satu ayat”. Ayat ini memberitahukan kepada kita untuk menyampaikan ayat walaupun hanya sedikit tetapi dengan pemahaman yang menyeluruh. Karena menyampaikan kandungan atau tafsir ayat tidak sama dengan menyampaikan suatu informasi atau berita.

Di dalam Al-Qur’an banyak ditemukan ayat yang memerintahkan untuk melakukan berdakwah, diantaranya firman Allah yang berbunyi:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Yang artinya, “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali ‘Imran/3: 104).

Ayat ini seringkali dipahami sebagai landasan utama bagi setiap muslim untuk menjalankan perintah amr ma’ruf nahy munkar, menyuruh pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. sebuah cara pandang yang memunculkan fenomena saling mengingatkan antar sesama yang pada dasarnya adalah nilai-nilai positif. Hendaknya untuk terus-menerus menyeru kepada kebajikan. Tujuan dakwah tidak akan tercapai hanya dengan anjuran melakukan perbuatan baik saja tanpa dibarengi dengan sifat-sifat keutamaan dan menghilangkan sifat-sifat buruk dan jahat agar tujuan dakwah dapat tercapai dengan baik. 

Salah satu contoh amal ma’ruf nahi mankar, yakni perintah Allah untuk menyampaikan amanah

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. QS. An-Nisa ayat 58.

Amanah adalah sesuatu yang dapat dipercaya. Dengan begitu, amanah bisa dikaitkan dengan sifat seseorang yang dapat dipercaya atau sesuatu yang dipercayakan. Amanah memiliki arti sebagai orang yang terpercaya atau bisa menjaga rahasianya. Setiap orang harus memiliki sifat amanah, terlebih lagi jika ia seorang pemimpin. Pemimpin yang baik harus bisa mendapatkan kepercayaan dari setiap pengikutnya.

Amanah sendiri menjadi salah satu indikator keimanan seorang manusia. Orang yang beriman akan selalu berupaya menjaga amanah dengan sebaik-baiknya. Dalam sabda Rasulullah SAW juga dijelaskan:

لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ وَلاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ

Artinya: “Tidak sempurna iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak sempurna agama orang yang tidak menunaikan janji”. (HR. Ahmad).

Contoh dari penerapan sifat amanah:

1. Mengembalikan barang yang telah dipinjam

2. Menjaga rahasia

3. Menyampaikan pesan kepada yang berhak menerima pesan, tenpa mengurangi ataupun menambahi pesan tersebut

4. Mengerjakan tugas

5. Tidak menyalahgunakkan jabatan yang telah diemban



SYAFI’ATUL AMALAH – 04020120065

KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM – A4

TUGAS HADIST DAKWAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar